Monday, May 09, 2016

Inilah 7 Aksara Nusantara yang Kini Nasibnya Terancam Punah

Sebelum menjadi negara yang berdaulat seperti sekarang ini, Indonesia dulu masih berupa nusantara yang terdiri dari beberapa kerajaan. Pada masa-masa itu, masyarakat nusantara menggunakan beberapa bahasa dan tulisan atau yang dulu disebut aksara untuk berkomunikasi.

Tiap daerah di nusantara punya aksara yang berbeda dari tempat lainnya. Beberapa di antaranya masih kita kenal hingga kini. Seperti aksara Jawa dan aksara Sasak. Beberapa lagi kita kenal melalui prasasti yang dibahas dalam pelajaran sejarah di bangku-bangku sekolah.

Nah, agar kita tak melupakan budaya kita, yuk kita bahas aksara yang sangat berarti untuk nenek moyang kita itu di sini.

1. Aksara Pallawa
Aksara Pallawa adalah aksara yang paling sering digunakan pada beberapa prasasti di nusantara. Seperti prasasti Mulawarman di Kutai, Kalimantan Timur dan Prasasti Tarumanegara di Jawa Barat. Aksara Pallawa atau biasa ditulis Pallava ini berasal dari Dinasti Pallava yang pernah berkuasa di selatan India antara abad ke-4 sampai abad ke-9 Masehi.



2. Aksara Jawa
Aksara yang hingga kini masih dikenal oleh masyarakat Jawa adalah Aksara Jawa. Aksara ini menggunakan sistem tulisan Abugida yaitu sistem penulisan dari kiri ke kanan dan melambangkan suatu suku kata bervokal ‘a’.



Aksara ini terdiri dari 20 suku kata dan beberapa aksara suara, tanda baca, dan angka Jawa. Aksara Jawa dan aksara Bali merupakan perkembangan modern dari aksara Kawi, salah satu turunan aksara Brahmi yang berkembang di Jawa. Aksara ini dulu lebih banyak digunakan untuk menerjemahkan bahasa sansekerta.

3. Aksara Bali
Aksara Bali adalah aksara yang hampir sama dengan aksara Jawa. Hanya saja aksara Bali terdiri dari 47 aksara yang terdiri dari 18 huruf konsonan dan 7 huruf vokal, sedangkan sisanya adalah serapan dari bahasa Sansekerta dan Kawi.



Dalam aksara Bali, huruf dibagi berdasarkan pengucapannya yang sering disebut dengan warga aksara. Pembagian ini berdasar pada kaidah penulisan Sansekerta Panini.

4. Aksara Kawi
Aksara Kawi atau sering ditulis Kavi yang memiliki arti pujangga. Aksara Kawi adalah salah satu jenis aksara Brahmi. Aksara Kawi sering digunakan di sekitar daerah Jawa dan Bali.


Tapi beberapa prasasti bertuliskan aksara Kawi juga ditemukan sampai ke Filiphina. Pada perkembangannya, aksara Kawi adalah nenek moyang dari aksara-aksara yang ada di nusantara.

5. Aksara Sasak
Seperti namanya, aksara ini sering digunakan oleh masyarakat suku Sasak, Lombok. Aksara ini terdiri atas 4 bagian yaitu Carakan, Swalalita, Rekan, dan Carakan. Hampir sama dengan Aksara Jawa, aksara Sasak juga berjumlah 20 huruf dengan tambahan aksara murda dan angka.



6. Aksara Lontara
Aksara Lontara sering digunakan oleh masyarakat suku Bugis-Makassar. Aksara ini lebih sering digunakan untuk menulis tata aturan pemerintahan dan kemasyarakatan. Naskah ditulis pada daun lontar menggunakan lidi atau kalam yang terbuat dari ijuk kasar. Aksara lontara terdiri dari 23 huruf konsonan dan mempunyai vokal inheren ‘a’.



7. Aksara Sunda


Setidaknya sejak Abad XII masyarakat Sunda telah lama mengenal aksara untuk menuliskan bahasa yang mereka gunakan. Namun pada awal masa kolonial, masyarakat Sunda dipaksa oleh penguasa dan keadaan untuk meninggalkan penggunaan Aksara Sunda Kuna yang merupakan salah satu identitas budaya Sunda. Keadaan yang berlangsung hingga masa kemerdekaan ini menyebabkan punahnya Aksara Sunda Kuna dalam tradisi tulis masyarakat Sunda.


Pada akhir Abad XIX sampai pertengahan Abad XX, para peneliti berkebangsaan asing (misalnya K. F. Holle dan C. M. Pleyte) dan bumiputra (misalnya Atja dan E. S. Ekadjati) mulai meneliti keberadaan prasasti-prasasti dan naskah-naskah tua yang menggunakan Aksara Sunda Kuna. Berdasarkan atas penelitian-penelitian sebelumnya, pada akhir Abad XX mulai timbul kesadaran akan adanya sebuah Aksara Sunda yang merupakan identitas khas masyarakat Sunda. Oleh karena itu Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menetapkan Perda No. 6 tahun 1996 tentang Pelestarian, Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Sunda yang kelak digantikan oleh Perda No. 5 tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah.





Selain deretan aksara yang telah disebutkan di atas, masih ada banyak lagi aksara di berbagai daerah di Indonesia seperti aksara Lampung dan aksara Batak. Saat ini banyak anak dan pemuda di daerah yang tidak hafal dan kesulitan menuliskan aksara yang merupakan bagian dari budaya daerahnya.
Lalu, bagaimana anak cucu kita bisa mengenal budaya nenek moyang kita? Semoga dengan informasi ini, bisa membuat kita kenal dengan warisan budaya sendiri dan menjaganya tetap lestari.

Sumber galamedianews.com

Monday, April 11, 2016

Gerakan Nusantara Mengaji Khatamkan Al Quran 300.000 Kali

Koordinator Nasional Nusantara Mengaji, Jazilul Fawaid mengatakan gerakan Nusantara Mengaji dengan menghatamkan 300.000 kali Quran dilakukan secara serentak di setiap provinsi se-Indonesia pada Sabtu hingga Minggu (7-8/5/2016) dalam satu majelis.

"Tujuannya, mengajak umat Islam seantero nusantara bermunajat dan berdo'a untuk keselamatan, kesejahteraan dan keberkahan bangsa. Khataman sendiri memiliki arti menyelesaikan bacaan Alquran sebanyak 30 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Annas," kata Jazilul dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Senin (.

Menurut dia, gerakan Nusantara Mengaji bermaksud mewujudkan kebersamaan dalam persatuan melalui hubungan spiritualitas. Selain itu, gerakan ini dimaksudkan untuk mengajak masyarakat agar senantiasa mengejawantahkan nilai-nilai moral agama.

"Majelis memiliki arti berkumpulnya satu orang sampai tiga puluh orang dalam satu tempat untuk menyelesaikan minimal satu khataman Alquran," katanya.

Jazilul mengatakan peserta Gerakan Nusantara Mengaji adalah setiap orang yang telah mendapatkan maqro dan bersedia secara sukarela membaca Alquran pada Sabtu hingga Minggu (7-8/5/2016).

Maqro, kata dia, adalah alat pembagian tugas pembacaan khataman Alquran. Maqro berbentuk kartu yang berisi keterangan data koordinator majelis.

Adapun pembagian kuota khataman Alquran tiap provinsi berbeda-beda, dilihat dari banyaknya penghapal dan pembaca Alquran di setiap provinsi. Untuk Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) kebagian 3.850 juz, Sumatera Utara 6.850 juz, Sumatera Barat 3.850 juz, Riau 7.700 juz, Kepulauan Riau 2.150 juz, Jambi 6.500 juz, Bengkulu 5.000 juz, Sumatera Selatan 10.900 juz, Bangka Belitung 1.300 juz, Lampung 1.300 juz, Banten 8.150 juz, Jawa Barat 21.500 juz, DKI Jakarta 1.500 juz, Jawa Tengah 42.450 juz, DI Yogyakarta 4.650 juz.

Selain itu, Jawa Timur 82.450 juz, Bali 400 juz, Nusa Tenggara Barat 6.400 juz, Nusa Tenggara Timur 1.000 juz, Kalimantan Barat 6.100 juz, Kalimantan Selatan 9.900 juz, Kalimantan Tengah 5.350 juz, Kalimantan Timur 3.000 juz, Kalimantan Utara 1.500 juz, Gorontalo 850 juz, Sulawesi Selatan 7.950 juz, Sulawesi Tenggara 6.450 juz, Sulawesi Tengah 6.550 juz, Sulawesi Utara 2.000 juz, Sulawesi Barat 2.650 juz, Maluku 4.350 juz, Maluku Utara 2.850 juz, Papua 2.000 juz, Papua Barat 1.700 juz dan Kornas 9.450 juz. Dengan total keseluruhan mencapai angka 300.000 khataman.

Kiki Kurnia
sumber: www.galamedianews.com/nasional/83729/gerakan-nusantara-mengaji-khatamkan-300000-kali-quran.html

Tuesday, March 15, 2016

Memacu Adrenalin di Citanduy Pangandaran

PANTAI Pangandaran kini tak lagi jadi andalan wisata para pengunjung Kabupaten Ciamis. Justru tidak jauh dari pusat kota, wisatawan bisa menemukan destinasi yang menyenangkan sekaligus mendebarkan.
Nama Sungai Citanduy sudah tidak asing di telinga, apalagi airnya yang melimpah dinikmati warga Tasikmalaya, Ciamis, Banjar hingga Cilacap. Jika kita mencapai tepian sungai dari Jembatan Cirahong, setiap akhir pekan ada yang berlatih olahraga arung jeram di sana. Dari pinggir jembatan tua penghubung Tasik-Ciamis itu, sebuah jalan bersemak belukar menuntun kita menuju tepi Citanduy. Hati-hati, karena jalan sepanjang 50 meter itu menurun tajam.
Tetapi, menurut Jajang dari Galuh Mahasiswa Pecinta Alam Unigal, jeram di sungai itu direkomendasikan hanya bagi profesional atau atlet. "Grade (tingkat kesulitannya) 3-4, tidak direkomendasi untuk wisatawan. Untuk wisatawan, bisa mulai dari TPA Handapherang, di sana grade-nya turun jadi 2," tutur Jajang, April 2015 lalu.
Benar saja, dari Tempat Pembuangan Akhir Cikatomas Handapherang--cukup 15 menit dari Alun-alun Ciamis, ada akses ke sisi Citanduy lainnya. Jalannya sudah beraspal dan bisa dilalui mobil. Memang belum ada fasilitas wisata arung jeram di sana, tapi Gamapala dan komunitas di daerah setempat tidak sungkan menyewakan perahu saat diminta. Skiper dan instruktur pun siap mengantar wisatawan mengarungi jeram Citanduy.
Pengarungan biasanya berlangsung sampai Desa Bojong atau tempat wisata Karangkamulyan. Waktu pengarungan relatif cukup lama walaupun arus senantiasa deras, yakni 4-5 jam, soalnya akan ditemui juga air tenang yang membutuhkan lebih banyak kekuatan mendayung. Akan tetapi, kita tidak akan merasa bosan dengan pemandangan yang dilalui.
Seperti halnya waktu melewati sebuah air terjun di Imas Putra, air mencurah dari tebing sejangkung 25 meter. Di sela olahraga memacu detak jantung itu, pengarung dapat beristirahat dengan mandi di tepi sungai.
Jajang yang pernah mengarungi sungai lain di Jawa Barat mengatakan, Citanduy punya karakter yang kuat. Dengan kedalaman 2-8 meter, sungai itu memiliki jeram dan air tenang yang bervariasi. "Selain itu di sini lebih menguji nyali karena kita bisa ketemu jeram sambil belok," kata dia. Makanya, setiap pengunjung harus tahu teknis dasar dan menuruti apa kata skiper, di samping memakai alat perlindungan standar seperti helm dan pelampung.
"Fasilitasnya sudah enak, cuman belum ada transportasi yang langsung ke tujuan," kata rekan Jajang, Randi.
Keindahan alam yang ada di sisi Sungai Citanduy dan Cimuntur, dan bermuara di Karangkamulyan menarik banyak wisatawan. Selain uji nyali, pengunjung dapat terhibur dengan binatang langka yang mudah ditemui. Seperti biawak dan ular spesies langka. Peserta dapat berhenti istirahat setelah 2-3 jam pengarungan di Situs Salawe. Dengan total panjang pengarungan sampai 20-25 kilometer, di Salawe, peserta bisa makan, minum, istirahat, dan membeli buah tangan.
sumber pikiran-rakyat.com
(Gita Pratiwi)***

Friday, February 05, 2016

Wajah Baru Maribaya Lembang Bandung

Pintu Masuk Maribaya

Setelah sekian lama tempat wisata air terjun dan pemandian air panas Maribaya Lembang Bandung direnovasi dan di tutup untuk pengunjung, akhirnya pada akhir bulan Juli tahun 2015 objek wisata Maribaya di Lembang dibuka kembali untuk umum dengan konsep baru yaitu Maribaya Natural Hot Spring Resort, inilah wajah baru wisata air terjun Maribaya Lembang Bandung.
Meskipun proyek pembangunannya masih berjalan, namun beberapa fasilitas dan spot menarik sudah siap untuk digunakan dan dinikmati pengunjung. Memang ada beberapa kesan yang berbeda saat mengunjungi tempat wisata Maribaya Lembang saat belum di renovasi dengan saat ini setelah melalui proses renovasi, beberapa hal yang mencolok adalah dibangunnya beberapa fasilitas baru seperti food court dan cafe. Objek wisata Maribaya Lembang kini terlihat lebih modern dan lebih nyaman dengan beberapa fasilitas baru.
Dengan luas area sekitar 6 Ha, tempat wisata Maribaya Lembang menyajikan suasana hutan yang masih asri, di sekeliling masih terlihat pohon-pohon besar yang berdiri menjulang, bahkan kita masih bisa mendengar bunyi “tongeret”. Salah satu ciri khas Maribaya sejak dulu adalah adanya curug atau air terjun, di sini kita dapat menyaksikan dari dekat Curug Cigulung dan Curug Cikawari, meskipun saat kami mengunjungi tempat ini masih terlihat beberapa sampah pada salah satu curugnya, inilah salah satu pekerjaan rumah yang harus di selesaikan oleh pengelola.
Tempat wisata Maribaya Lembang terletak di bagian timur Lembang, sekitar 5 KM dari Pasar Lembang dan sekitar 20-25 KM dari Kota Bandung. Untuk menuju ke tempat wisata Maribaya di Lembang ini kita dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, di lokasi terdapat fasilitas parkir yang cukup memadai, akses dari Kota Bandung bisa melalui Jl. Dr. Setiabudhi – Ledeng – Lembang atau juga dapat melalui Jl. Ir. H Juanda – Dago giri – Cikidang Lembang. Di sepanjang jalan menuju objek wisata maribaya kita juga akan melewati beberapa objek wisata lain seperti De Ranch, Kebun Bunga Begonia, Rumah Bunga Rizal serta Taman Hutan Raya Juanda Gerbang Lembang.
Tempat parkir objek wisata Maribaya Lembang lokasinya terpisah berada di seberang jalan, selanjutnya pengunjung akan di antar dengan sebuah mobil khas menuju lokasi Maribaya.
Untuk memasuki objek wisata Maribaya pengunjung diharuskan untuk membelitiket sebesar Rp. 35.000,-/orang setelah melalui gerbang utama yang disebut dengan Gerbang Eyang Raksa, pengunjung dapat beristirahat atau nongkrong di bagian atas gerbang ini ataupun bisa ngopi-ngopi di food court depan, setelah melewati sebuah jembatan pengunjung dapat melihat sebuah diorama yang menceritakan mengenai legenda maribaya. Tidak jauh dari Diorama ini pengunjung yang membawa anak-anak dapat langsung bermain mancing di kolam pancing Talaga Giri.
Diorama legenda Maribaya

Di beberapa spot terlihat kursi-kursi taman yang dapat digunakan oleh pengunjung untuk beristirahat, melanjutkan perjalanan kita akan menemukan kolam rendam Tirta Wening di sini juga terdapat fasilitas foot spa, pengunjung yang ingin menikmati foot spa harus membeli tiket sebesar Rp. 30.000,- sementara Donut Ball Rp. 15.000,- per 15 menit.

foot spa maribaya bandung
Melanjutkan perjalanan kita akan menjumpai sebuah jembatan yang cukup panjang yang disebut dengan Tapak Halimun, jembatan ini akan menghubungkan kita dengan fasilitas Bale Pinton, yaitu semacam sebuah area untuk pertunjukan. Di dekat Bale Pinton anak-anak dapat bermain di area bermain anak Kids Adventurland.

Salah satu air terjun di Maribaya Lembang

Dari Bale Pinton kita dapat melanjutkan perjalanan menuju air terjun, disini kita dapat menikmati pemandangan air terjun, selanjutnya pengunjung dapat beristirahat sambil menikmati sajian makanan di Twig Cafe, bagi pengunjung yang ingin berendam di air panas dapat menuju ke Tirta Sawarna yang tidak jauh dari Twig Cafe.

Restoran Maribaya Lembang

Pada beberapa spot masih dapat dijumpai beberapa ciri khas maribaya tempo dulu seperti relief batu berikut ini.

JAM BUKA DAN TUTUP MARIBAYA LEMBANG

Untuk saat ini (update 12 November 2015) objek wisata Maribaya Lembang hanya buka pada:
Hari Jum’at, Sabtu dan Minggu jam 08.00 s/d jam 20.00
Hari libur nasional jam 08.00 s/d jam 20.00
Sementara hari senin-jum’at tutup.
HARGA TIKET MASUK MARIBAYA LEMBANG

Tiket Masuk Rp. 35.000,-
Foot SPA Rp. 30.000,-
Deluxe Pool Rp. 75.000,-
VIP Pool Rp. 150.000,-
Tiket berlaku bagi usia 3 tahun ke atas, jadi bagi anda yang membawa anak-anak usia 3 tahun atau lebih dikenakan tarif yang sama.
FASILITAS DI MARIBAYA LEMBANG

Food Court Langlang Buana
Kolam tangkap ikan Talaga Giri
Kolam pancing talaga giri
Area barbeque Saung Iteung
Kolam ikan air dingin
Kolam rendam kaki air panas
Kolam rendam air panas alam
Twig cafe dengan kapasitas 250 orang
Yoga hill swargaloka
Kolam rendam VIP Tirta Sawarna
Kamar rendam Tirta Raga
Amphitheatre Bale Pinton
Sky Bridge di area Bale Pinton
Area bermain anak
Kios sayur dan buah
Parkir
Toilet
Mushola
MAKANAN DAN MINUMAN DI MARIBAYA LEMBANG

Berbagai menu makanan dan minuman tersedia di food court maupun cafe di lokasi Maribaya Lembang, untuk paket masakan Indonesia anda dapat memlilih menu seperti gado-gado, soto ayam, ikan goreng, coto makasar, soto madura, garang asam, lodeh, soto betawi dan masih banyak lagi pilihan menu lainnya, untuk harga paketnya mulai dari Rp. 55.000,-/pax (update 12 september 2015).
ALAMAT MARIBAYA LEMBANG

Jl. Maribaya No. 105/212 Lembang Bandung Barat
Secara umum lokasi wisata maribaya Lembang kini menjadi lebih menarik dengan penataan yang lebih rapi dan modern, jadi tidak ada salahnya jika berkunjung ke Lembang Bandung Barat anda menyempatkan diri untuk berlibur di objek wisata air terjun dan pemandian air panas Maribaya Lembang.

Tuesday, January 26, 2016

Muliakan Hak Si Buah Hati

Ada banyak orang yang sampai hari ini begitu mendambakan kehadiran buah hati, tetapi ternyata Allah belum berkenan menganugerahinya. Namun, pada saat yang sama, akhir-akhir ini, begitu mudah kita saksikan aksi kekerasan terhadap anak. Padahal, Islam sangat memuliakan hak dan keberadaan anak.

Islam begitu concern terhadap hak anak. Setidaknya ada lima hak anak yang harus terpenuhi dengan baik. 


Pertama, hak untuk mendapatkan perlindungan. Anak-anak harus dilindungi keberadaannya. Kelahirannya harus disambut dengan riang dan dijauhkan dari segala bahaya dan ancaman.

Islam dalam Alquran surah Ali Imran [3] ayat 38 memberikan inspirasi yang sangat berarti, jauh-jauh hari, kepada para pasangan yang hendak menikah untuk berdoa, "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa." Kemudian, ketika masih dalam kandungan, orang tuanya (ayah dan ibu) diperintahkan lagi agar banyak membaca Alquran dan berbuat kebajikan sambil terus berdoa (QS Ibrahim [14]: 35; an-Naml [27]: 19; al-Ahqaf [46]: 15).

Kedua, hak untuk hidup dan bertumbuh kembang. Allah SWT berfirman, "Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yakni bagi mereka yang ingin menyempurnakan penyusuan." (QS al-Baqarah [2]: 233). Sejak masih dalam kandungan, anak sudah harus diasupi gizi yang terbaik agar kelak ketika lahir dapat berjalan normal.

Sampai kemudian bayi tersebut lahir, anak dianjurkan untuk segera diperdengarkan kumandang azan dengan harapan nilai-nilai tauhid terpatri dalam jiwanya semenjak lahir. Bayi pun kemudian harus diberikan ASI agar pertumbuhan dan perkembangannya optimal.

Ketiga, hak mendapatkan pendidikan. Ketika anak terus tumbuh dan berkembang, tahap selanjutnya mereka harus diberikan pendidikan yang terbaik, terutama tentang penanaman nilai budi pekerti dan akhlakul karimah. Nabi SAW bersabda, "Tidak ada pemberian seorang ayah yang lebih baik, selain dari budi pekerti yang luhur." (HR at-Tirmizi). orang tua adalah cerminan anak. Orang tualah yang akan menjadi guru pertama anak ketika di rumah. Orang tua yang harus lebih awal memberikan keteladanan kepada anaknya.

Keempat, hak mendapatkan nafkah dan waris. Untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, anak-anak butuh banyak keperluan. Orang tua wajib memberikan nafkah kepada anak-anaknya. Dan kelak, orang tua juga dapat memberikan warisan kepada anak-anaknya dengan adil. Nabi SAW bersabda, "Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah memberi nama yang baik, mengajarkan sopan santun, mengajari menulis, berenang dan memanah, memberikan nafkah yang baik dan halal, dan mengawinkannya bila saatnya tiba." (HR Hakim).

Kelima, hak mendapatkan perlakuan setara (tidak diskriminatif). Semua anak yang lahir ke dunia ini adalah mulia, baik perempuan maupun laki-laki. Karenanya, Islam sangat menjunjung tinggi hak hidup dan hak mendapatkan perlakuan setara antara anak perempuan dan laki-laki.

Nabi SAW bersabda, "Samakanlah anak-anakmu dalam hal pemberian. Jika kamu hendak melebihkan salah seorang di antara mereka, lebihkanlah pemberian itu kepada anak-anak perempuan." (HR at-Tabrani).

Senada dengan hadis tersebut, pada kesempatan lain Nabi SAW juga bersabda, "Sesungguhnya aku menekankan pada kalian perhatian yang lebih khusus terhadap hak dua orang lemah, yaitu anak yatim dan anak perempuan." (HR Ibnu Majjah). Wallahu a'lam.


Oleh: Mamang M Haerudin 
sumber : www.republika.co.id

Monday, January 25, 2016

Menjaga Bumi dengan Iman

Bumi adalah hamparan yang menjadi pijakan kita. Kita tinggal di atasnya, kita mengais rezeki darinya, kita makan bersumber darinya, bahkan kita pun mengandung unsurnya karena kita berasal dari tanah.

Bumi memberikan kita, umat manusia, fasilitas hidup yang sungguh tak terkira. Bahkan, ketika kita telah meninggal dunia, bumi pun menjadi tempat peristirahatan jasad kita. Hanya, para malaikat pernah "protes" kepada Allah tatkala Allah hendak menciptakan kaum manusia (Nabi Adam As).

Hal itu terekam dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 30, "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.' Mereka berkata, 'Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?' Tuhan berfirman, 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui'."

Allah memandatkan Nabi Adam dan keturunannya (umat manusia) untuk mengelola bumi. Dengan demikian, bumi menjadi tempat bergantung bagi umat manusia dan agar umat manusia mengelolanya secara baik. Setidaknya, dalam mengelola bumi itu ada dua hal yang perlu diperhatikan.

Hal pertama adalah mengambil manfaat dari bumi karena bumi telah menyediakan fasilitas bagi umat manusia. Mengambil manfaat ini contohnya adalah bercocok tanam, mengambil manfaat dari pepohonan, menggembalakan ternak di atas padang rumputnya, mengambil air dari sumbernya, mengambil minyak serta batu bara dari perut bumi, dan lain sebagainya. Semua itu untuk kemaslahatan hidup umat manusia. Akan tetapi, pengambilan manfaat dari bumi tersebut tidak boleh dengan landasan serakah dan sewenang-wenang.

Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan hal kedua dalam mengelola bumi, yakni menjaga atau memeliharanya agar bisa tetap lestari dan merata d alam pemenuhan kebutuhan umat manusia yang menjadi penduduk bumi. Pen gambilan manfaat dari bumi itu harus tetap memperhatikan kelestariannya. Dengan demikian, selain mengambil manfaat, juga harus diperhatikan pula penjagaan dan pemeliharaannya.

Itulah yang diajarkan oleh agama Islam, yakni mengambil manfaat tetapi juga harus memeliharanya agar manfaat terus bisa terjaga. Itulah yang dinamakan tidak berlebih-lebihan. Berlebih-lebihan itu dilarang oleh Islam, sebagaimana yang termaktub dalam Alquran surah al-A'raf ayat 31, "...Jangan berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."

Hanya, banyak di antara umat manusia ini yang serakah. Mereka mengambil manfaat dari bumi secara tidak proporsional, menebang hutan secara liar, membakar hutan secara ngawur, ilegal logging, penambangan secara brutal, pencemaran terhadap lingkungan, dan lain sebagainya. Maka dari itu, tidak mengherankan jika banyak bencana alam yang datang, banjir, tanah longsor, kabut asap, dan lain sebagainya.
Penting dalam hal ini bagi kita sebagai umat Islam adalah menjaga bumi dengan iman. Jika kita mengaku umat beriman, tentu kita mengelola bumi tidak hanya mengambil manfaatnya, tetapi juga menjaganya agar tidak terjadi kerusakan.

Oleh karena itu, marilah kita menjaga bumi dengan iman agar tercipta keseimbangan ekosistem di dalam kehidupan. Wallahu a'lam.


Oleh: Supiyadi
sumber : www.republika.co.id

Saturday, January 23, 2016

Ilmu Pisang Sebuah ilmu yang akan meruntuhkan dominasi Ilmu Padi

Kawan , pernahkah anda berhenti disebuah toko buku ?
tertarik pada salah satu buku dengan judul yang tidak menarik , umumnya suatu nama barang dan nama orang yang asing .. sama sekali tak menarik !
Namun rasanya aneh , impuls syaraf seolah tersihir dan tanpa sadar kita buka tiap lembaran buku itu , dan ajaibnya pandangan ini seolah tak dapat lepas dari lembaran lembaran itu , lembaran indah yang dihiasi gambar gambar rongsokan atau coretan ceker hayam(?) rongsokan dan coretan ceker hayam (?) itu lalu disusun sedemikian rupa hingga menjadi sesuatu yang "HEBAT !" "WAH" atau kadang kita hanya bergumam .. "Oh gitu doang .."

Memang cuman reaksi "HEBAT!" "WAH" atau "Oh gitu doang .." yang umum dari kita , namun tak sadarkah kita ? kadang isi buku itu begitu mengusik , kadang hadir sebagai mimpi buruk dan terkadang mengunci fokus pikiran kita , walau seringnya "Hebat!" WAH" atau "oh gitu doang .." hanya numpang lewat , ngopi bentar lalu pergi berlalu begitu saja dengan angkot impian tujuan Duit - Hidup Enak PP.

Beberapa orang yang beruntung untuk memiliki mimpi seperti itu kadang malah terlalu banyak bertanya
"Wah ! hari gini mah dapet hak paten susah .. sandal aja ada yang bisa bikin orang sehat terus (inget iklan sendal kesehatan k*z*i) .. sekarang si gue mau bikin apaan lagi ??"
Padahal .. Andaikan kita mau sedikit membuka mata dan pikiran kita .. Alam ini masih menyimpan banyak ilmu yang terus menerus memanggil kita .. Andaikan kita mau sedikit saja memahami alam .. Tentulah menelurkan sebuah pemikiran baru itu tak sulit , bagi saya dan kita semua .. Tak ubahnya Ilmu ini yang diturunkan Allah SWT melalui sebuah pohon pisang kepada seorang "bocah" . Sebuah ilmu yang siap meruntuhkan dominasi ilmu padi , mungkin tak dapat dibandingkan dengan ilmu E=mc kuadrat karya einstein ..Tapi ini tetap sebuah ilmu , ilmu baru .. atau paling tidak begitulah yang saya tau ..

Mulailah dengan memahami alam
Memahami alam selalu mengasyikkan , bahkan keasyikkan itu tak lantas berkurang ketika apa yang kita coba pahami hanyalah sepetak tanah yang tak jauh dari rumah nenek yang isinya hanya rumput liar dan beberapa tumbuhan pisang ..
Kemanapun mata ini memandang selalu ada hal baru yang disajikan alam , tak perlu waktu lama hingga beban pikiran ini sirna dibuai keindahan alam ciptaan-Nya .

Begitupun bagi seorang "bocah" yang kala itu sedang asyik sendiri .. memandangi beberapa pohon pisang yang tumbuh lebat di depannya , beberapa pohon itu sudah tak elok lagi rupanya , ada yang telah mati dimakan usia , ada yang berbuah lebat namun dirusak oleh segerombolan hewan , ada juga yang batangnya dipotong dan tak kentara daun.n .. beberapa lagi teronggok saja disana meski elok tapi pohon pisang tetaplah pohon pisang selalu saja "sederhana" .. daunnya dari dulu begitu , tak pernah terurai lurus keatas .. selalu saja merunduk kebawah dan tersayat sayat .. " -selalu "sederhana" dan tak pernah menunggu tumpukan "isi" hingga "dia" harus merunduk .. inilah Ilmu Pisang yang akan meruntuhkan dominasi Ilmu padi "

Tak hanya itu saja , tak lama setelah "bocah" itu mengamati lebih jauh , senyum kecil perlahan tumbuh diwajahnya .. Sebuah jawaban yang dititipkan pada sebatang pohon itu kini telah berhasil ia temukan .. Pohon pisang itu lagi lagi mengajarkan hal baru
" -sebuah pohon pisang akan selalu tumbuh walau ditebas berkali kali , sebuah pohon pisang akan selalu mendaki ke atas dan takkan pernah berhenti hingga usaha.n itu dapat berbuah " Beberapa saat "bocah" itu tertegun .. diajari sebuah pohon .. tak pernah dia bayangkan dalam hidupnya .. perlahan dia melangkah menghampiri sebatang pohon pisang yang telah berbunga , berbuah lebat dan manis rasanya ..

Dia petik buahnya dan dia gigit perlahan , daging buahnya lembut dan manis , bijinya kecill dan tidak pahit rasanya , begitupun kulitnya kulitnya tak pernah membuat repot alam .. mudah sekali terurai , namun kali ini "bocah" itu meneteskan air mata .. "terharu" begitulah keadaan.n "-Buah yang manis dan lebat itu tak pernah dinikmati oleh pohon pisang walau secuil pun , buah itu bukan tumpukan "hartanya" yang kemudian hari akan dia ambil untuk mengenyangkan perutnya .. segera setelah pohon pisang berbunga dan berbuah .. dia akan makin merunduk hingga daun.n menyentuh tanah .. pohon pisang itu tak lagi hidup , namun akhir hidupnya tak pernah sia-sia selalu ada hal baru yang dihasilkannya dan manfaatnya begitu luar biasa bagi lingkungan sekitarnya" Tangis sang bocah mulai berhenti , kali senyum yang lebar menghiasi bibirnya .. bahkan sebuah tunas mengajarkan.n hal yang luar biasa " -Pohon pisang yang mati akan melahirkan banyak tunas baru yang akan selalu mewarisi semangatnya , walau tunas itu tak pernah didampingi induknya namun tunas itu tak pernah berhenti tumbuh selalu bersemangat dalam berusaha , dan ketika usaha.n telah berbuah nanti , buah itu dianugerahkan pada alam , tanpa ia nikmati secuil pun" .

Inilah Ilmu Pisang ... Sebuah ilmu yang akan meruntuhkan dominasi Ilmu Padi
sumber :Note FB mang-bro

Friday, January 22, 2016

Museum Sri Baduga Koleksi Jampana Kepala Burung Garuda berleher Ular Naga

Sejumlah koleksi Museum Sri Baduga Jabar mengalami perbaikan atau restorasi. Salah satu koleksi yang diperbaiki adalah kepala jampana berbentuk Kepala Burung Garuda berleher Ular Naga.

Koleksi jampana ini berasal dari Cirebon yang sudah ada di Museum Sri Baduga sejak tahun 1978, atau setahun sebelum Museum Sri Baduga diresmikan dan dibuka untuk umum.

Kepala Balai Pengelolaan Museum Sri Baduga Jabar, Sajidin Aries menyebutkan, perbaikan koleksi merupakan agenda rutin Museum Sri Baduga, terutama koleksi yang sudah tua dan lama disimpan di ruang pamer.

"Koleksi jampana ini memang sudah lama tersimpan di ruang pamer. Kita ingin tarik untuk diperbiaki dan diganti dengan koleksi yang lain," ujar Aries pada wartawan, Jumat (22/1/2016).

Menurut Aries, jampana ini berasal dari wilayah Cirebon, dan banyak digunakan oleh orang-orang dulu.

Jampana terang dia, merupakan tandu yang biasa dipakai untuk mengarak pengantin sunat atau sepasang pengantin yang melaksanakan kawin gantung karena usianya masih muda.

"Kawin gantung ini, dulu sering dilakukan oleh masyarakat di lingkungan pesisir Cirebon," ujarnya.

Jampana ini, terdiri dari dua buah, satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan. Terbuat dari dari kayu, bambu dan lain-lain. Alas duduk berbentuk segi empat, terbuat dari susunan bilah bambu dan sisi-sisinya berpalang kayu.

Pada keempat sudut dipasang tiang untuk penyangga atap yang terbuat dari kain berwan biru bermotif wadasan, bunga dan burung merak. sekeliling atap dihias kain merah dan rendah putih kain wiron putih yang dipenuhi bunga dari kain beraneka warna dan jumbal hanjeli.

Sementara tinggi tiang tidak sama shingga atap landai ke belakang. Sedangkan bagian depan tandu berhiaskan kepala burung garuda yang berleher ular naga. Dimana bagian depan tandu dan di bagian belakang ekor naga yang  mencuat ke atas.

"Pemakaian motif burung dan ular merupakan pengaruh Hindu, karena karena dalam mitologi Hundi burung merupakan lambang kekuasaan dan ular lambang kesuburan," ujarnya.

Sedangkan kepala burung garuda memakai mahkota dengan hiasan nyakmat pada puncaknya outon-outon di bawahnya. Pada bagian belakang terdapat hiasan garuda mungkur, muka berwarna merah, mata kedongdongan, paruh gak melengkung berwarna hitam dan mulut terbuka sehingga tampak taring dan giginya, telinga memakai sumping naga karangrang. Badan dan ekor berwarna berarna merah dipenuhi oleh sisik berwarna biru. Pada bagian ekor terdapat dua buah sirip dan ujung ekor bercagak.

"Ini semua akan direstorasi dan mengembalikan pada kondisi semula. Pasalnya, kepala jampana ini mengalami kerusakan akibat dimakan usia, serta minimnya perawatan. Mudah-mudahan, dengan restorasi ini, Jampana Kepala Burung Naga ini bisa lebih baik dan menarik pengunjung," terangnya.
Kiki Kurnia
Sumber galamedianews.com/wisata

Wednesday, January 20, 2016

Hujan sebagai Rahmat,Rizki, dan Pertolongan

Hujan adalah salah satu anugrah agung dari Allah SWT yang diberikan kepada makhluk-Nya di bumi, terutama bagi manusia.
Hujan tidak hanya memberikan curahan air segar, tapi juga menjadi sebab terbukanya pintu rezeki, menyuburkan tanah yang gersang, dan membantu memperbaiki kualitas udara bagi manusia.

Karena itu, dalam Alquran, hujan sering disebutkan dengan kata rahmat (kasih sayang), rizqan (rezeki), dan ghaits (pertolongan).

Allah SWT berfirman, “Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan), dan Kami turunkan air dari langit yang amat bersih agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.” (QS Al-Furqan [25]: 48-49).

Di tengah meluasnya bencana asap dan kekeringan yang melanda wilayah Indonesia saat ini, kita benar-benar sedang membutuhkan curahan air hujan. Allah SWT dan Rasul-Nya telah mengajarkan beberapa langkah yang hend aknya kita lakukan untuk “memancing” turunnya hujan.

Pertama, memperbanyak istighfar. Istighfar berarti mohon ampun kepada Allah SWT dengan mengakui dosa-dosa yang kita lakukan. Istighfar sebagai salah satu cara untuk memancing turunnya hujan pernah diajarkan oleh Nabi Nuh AS ketika berdakwah kepada kaumnya.
Allah SWT berfirman dalam Alquran surat Nuh (71) ayat 10-11 yang artinya, “Maka, aku (Nuh) katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.”

Kedua, istiqamah di jalan Allah SWT. Selain beristighfar, cara lain untuk memancing datangnya hujan adalah dengan istiqamah, yaitu konsisten melakukan kebaikan dan konsisten menjauhi larangan.

Allah SWT berfirman, “Dan bahwasanya jikalau mereka tetap istiqamah (berjalan lurus) di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air (hujan) yang segar.” (QS Al-Jin [72]: 16).

Ketiga, memperbanyak doa. Doa adalah senjata utama kaum Muslimin. Ketika berbagai usaha telah kita lakukan maka doa adalah pelengkapnya.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa suatu hari ada orang datang kepada Rasulullah SAW mengadukan musnahny a harta benda dan terputusnya pintu rezekinya karena hujan yang tak kunjung turun.

Rasulullah SAW kemudian berdoa, “Ya Allah turunkanlah kepada kami hujan, Ya Allah turunkanlah kepada kami hujan, Ya Allah turunkanlah kepada kami hujan.” Tak lama setelah itu, tiba-tiba dari balik gunung muncul mendung bagaikan perisai, lalu menyebar dan menurunkan hujan hingga seminggu berikutnya. (HR Bukhari Muslim).

Keempat, shalat Istisqa. Shalat Istisqa adalah shalat dua rakaat yang diniatkan untuk meminta hujan kepada Allah SWT. Selain berdoa, Rasulullah SAW juga pernah mencontohkan shalat Istisqa ketika hujan tak kunjung datang.

Sahabat Abdullah bin Zaid pernah berkisah, “Rasulullah SAW pernah keluar rumah meminta hujan, lalu beliau shalat dua rakaat, di mana beliau mengeraskan bacaan pada kedua rakaatnya.” (HR An-Nasai). Wallahu A'lam.

Oleh: Jauhar Ridloni Marzuq
sumber : www.republika.co.id

Tuesday, January 19, 2016

Waspadai Keserakahan dan Perusakan Alam

Bencana asap yang menerpa di berbagai wilayah, terutama di Sumatra, di antaranya karena ulah keserakahan manusia. Keserakahan manusia untuk terus-menerus mengeksploitasi sumber daya alam.

Termasuk, membakar lahan dengan cara tak bertanggung jawab, telah berdampak pada kerugian material dan nonmaterial yang tidak sedikit. Di sisi lain, upaya untuk mengatasi bencana asap ini belum juga menemukan titik terangnya.

Padahal, Allah SWT telah mengingatkan dalam Alquran bahwa, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS ar-Rum [30]: 41).

Terkadang, ketika manusia berinteraksi dengan sesama manusia, hewan, dan alam semesta, sering kali lupa akan tugas dan kewajibannya sebagai khalifah di muka bumi untuk menjaga keseimbangan ekosistem keh idupan di muka bumi. Sebab itu, Allah SWT mengingatkan manusia untuk memperlakukan apa saja yang ada di bumi dengan baik.

Penyakit serakah pada dasarnya bermuara dari sikap hidup berlebih-lebihan dalam penggunaan harta benda dan kekayaan alam, tanpa memikirkan kehidupan selanjutnya di masa depan. Keserakahan tidak hanya merugikan sesama manusia, tetapi juga dapat mengancam keseimbangan ekosistem alam.

Oleh karenanya, ajaran Islam mengingatkan manusia untuk memperlakukan alam dengan sebaik mungkin. Hal ini terlihat ketika tentara Muslim memasuki sebuah wilayah yang ditaklukkan. Salah satu larangan tegas yang dilarang adalah menebangi pohon tanpa ada alasan yang benar. Peristiwa ini memperlihatkan Islam adalah agama yang ramah terhadap lingkungan.

Berbagai upaya pelestarian alam harus dilaksanakan oleh setiap Muslim yang menaati perintah agamanya. Tentunya, setiap perilaku yang menyebabkan kerusakan di muka bumi harus dilarang dan dicegah . Sebab, dalam Alquran surah Ali-Imran ayat 104 dikemukakan, "Dan hen daklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung."

Mengajak kepada yang ma'ruf (pelestarian alam) dan mencegah tindakan yang mungkar (perusakan alam) merupakan perintah Allah SWT kepada umat Islam. Dalam kehidupan sosial bermasyarakat sekarang ini, umat Islam diharuskan berperan aktif menjadi agen-agen pelestarian alam, baik individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat Muslim yang lebih luas.


Oleh: Muslimin
sumber : www.republika.co.id

Friday, December 04, 2015

Shalat Sebagai Penolong

Alquran dan hadis Nabi SAW telah menerangkan tentang kedudukan ibadah shalat, termasuk menjelaskan fungsi dan keutamaannya, baik secara eksplisit maupun implisit.

Misalnya, apabila shalat dikerjakan dengan sempurna, hati dan jiwa seseorang menjadi tenang dan tenteram (QS ar-Ra'du [13]: 28). Shalat juga bisa mencegah diri dari sifat keluh-kesah atau galau (QS al-Ma'arij [70]: 19-23).

Shalat pun dapat mencegah perbuatan keji dan munkar (QS al-Ankabut [29]: 45). Dengan shalat pintu keberkahan dari langit dan bumi akan terbuka (QS al-Araf [7]: 96).

Ibadah shalat akan menjadi penolong di saat seorang hamba berada dalam kondisi serbasulit dan susah (QS al-Baqarah [2]: 45-46). Dan sejumlah pesan spiritualitas kehidupan lainnya.

Khusus hubungannya dengan pesan shalat sebagai media yang menolong di saat kompleksnya terpaan kebutuhan mendesak dan kesulitan hidup, terdapat kisah inspiratif dari Rasulull ah SAW yang penting untuk kita teladani.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad disebutkan, “Bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW apabila dirundung persoalan hidup, beliau segera mengerjakan shalat.” (HR Ahmad).

Hudzaifah Ibnu al-Yaman RA juga menuturkan, “Pada malam berlangsungnya Perang Ahzab, saya menemui Rasulullah SAW, sementara beliau sedang shalat seraya menutup tubuhnya dengan jubah. Apabila Nabi SAW menghadapi permasalahan, beliau akan mengerjakan shalat.

Ali bin Abi Thalib RA pernah menuturkan keadaan Rasulullah SAW ketika Perang Badar. “Pada malam berlangsungnya Perang Badar, kami semua tertidur kecuali Rasulullah SAW. Beliau shalat dan berdoa sampai pagi.

Fakta di atas menunjukkan betapa penting dan besarnya kedudukan shalat. Ia bukan hanya sebagai ritual ibadah seorang hamba kepada Allah semata, tetapi shalat mampu melahirkan kesan dan pengaruh pos itif terhadap pembentukan karakter dan realitas kehidupan.

Termasuk fungsi dan keutamaannya sebagai penolong di saat kondisi yang serba sulit karena banyaknya permasalahan yang dihadapi, baik secara personal, kolektif, keluarga, kerja tim, maupun dalam konteks kebangsaan dan negara.

Sebagaimana penderitaan nasional yang saat ini masih dirasakan, seperti tingginya angka kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, kebodohan, korupsi yang semakin merajalela, lemahnya ekonomi dan tumpulnya penegakan hukum dan sebagainya.
Demikian juga kasus kabut asap karena pembakaraan hutan belakangan ini, jelas telah mengakibatkan kemudaratan yang sangat besar, seperti kerusakan alam, kerugian material, dan bahkan hilangnya nyawa.

Di saat kondisi sulit seperti ini, sabar dan shalat hendaklah menjadi kekuatan yang menolong bagi setiap individu Muslim. Sebab, shalat merupakan cerminan totalitas ketundukan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Sedangkan, bagi orang-orang yang bertakwa, Allah menjamin untuk memberi pertolongan, jalan keluar, rezeki yang tidak diduga-duga, dan kemudahan dalam setiap urusannya. Belum lagi di akhirat kelak, orang-orang yang bertakwa akan mendapat ampunan dan balasan pahala yang besar. (QS atThalaq [65]: 2-5).

Yakin seyakin-yakinnya, shalat dapat membentuk kepribadian luhur dan terpuji bagi setiap hamba yang mengerjakannya. Bahkan, shalat bisa menjadi kekuatan yang menolong sekaligus menempatkannya pada derajat hidup yang mulia jika dikerjakan dengan baik dan sempurna. Wallahu Al Musta'an.
Oleh: Imron Baehaqi

sumber : www.republika.co.id

Thursday, November 26, 2015

Isi Pesan Shalat

Alquran dan hadis Nabi SAW telah menerangkan tentang kedudukan ibadah shalat, termasuk menjelaskan fungsi dan keutamaannya, baik secara eksplisit maupun implisit.

Misalnya, apabila shalat dikerjakan dengan sempurna, hati dan jiwa seseorang menjadi tenang dan tenteram (QS ar-Ra'du [13]: 28). Shalat juga bisa mencegah diri dari sifat keluh-kesah atau galau (QS al-Ma'arij [70]: 19-23).

Shalat pun dapat mencegah perbuatan keji dan munkar (QS al-Ankabut [29]: 45). Dengan shalat pintu keberkahan dari langit dan bumi akan terbuka (QS al-Araf [7]: 96). Ibadah shalat akan menjadi penolong di saat seorang hamba berada dalam kondisi serbasulit dan susah (QS al-Baqarah [2]: 45-46). Dan sejumlah pesan spiritualitas kehidupan lainnya.

Khusus hubungannya dengan pesan shalat sebagai media yang menolong di saat kompleksnya terpaan kebutuhan mendesak dan kesulitan hidup, terdapat kisah inspiratif dari Rasulullah SA W yang penting untuk kita teladani. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad disebutkan, "Bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW apabila dirundung persoalan hidup, beliau segera mengerjakan shalat." (HR Ahmad).

Hudzaifah Ibnu al-Yaman RA juga menuturkan, "Pada malam berlangsungnya Perang Ahzab, saya menemui Rasulullah SAW, sementara beliau sedang shalat seraya menutup tubuhnya dengan jubah. Apabila Nabi SAW menghadapi permasalahan, beliau akan mengerjakan shalat."

Ali bin Abi Thalib RA pernah menuturkan keadaan Rasulullah SAW ketika Perang Badar. "Pada malam berlangsungnya Perang Badar, kami semua tertidur kecuali Rasulullah SAW. Beliau shalat dan berdoa sampai pagi."

Fakta di atas menunjukkan betapa penting dan besarnya kedudukan shalat. Ia bukan hanya sebagai ritual ibadah seorang hamba kepada Allah semata, tetapi shalat mampu melahirkan kesan dan pengaruh positif terhadap pembentukan karakter dan realitas kehidupan. Termasuk fung si dan keutamaannya sebagai penolong di saat kondisi yang serbasulit karena banyaknya permasalahan yang dihadapi, baik secara personal, kolektif, keluarga, kerja tim, maupun dalam konteks kebangsaan dan negara.

Sebagaimana penderitaan nasional yang saat ini masih dirasakan, seperti tingginya angka kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, kebodohan, korupsi yang semakin merajalela, lemahnya ekonomi dan tumpulnya penegakan hukum dan sebagainya. Demikian juga kasus kabut asap karena pembakaraan hutan belakangan ini, jelas telah mengakibatkan kemudaratan yang sangat besar, seperti kerusakan alam, kerugian material, dan bahkan hilangnya nyawa.

Di saat kondisi sulit seperti ini, maka sabar dan shalat hendaklah menjadi kekuatan yang menolong bagi setiap individu Muslim. Sebab, shalat merupakan cerminan totalitas ketundukan dan ketakwaan kepada Allah.

Sedangkan, bagi orang-orang yang bertakwa, Allah menjamin untuk memberi pertolongan, jalan keluar, rezeki yang tidak diduga-duga, dan kemudahan dalam setiap urusan nya. Belum lagi di akhirat kelak, orang-orang yang bertakwa akan mendapat ampunan dan balasan pahala yang besar. (QS atThalaq [65]: 2-5).

Yakin seyakin-yakinnya, shalat dapat membentuk kepribadian luhur dan terpuji bagi setiap hamba yang mengerjakannya. Bahkan, shalat bisa menjadi kekuatan yang menolong sekaligus menempatkannya pada derajat hidup yang mulia jika dikerjakan dengan baik dan sempurna. Wallahu Al Musta'an.

Oleh: Imran Barhaqi

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, November 24, 2015

Berilmu Sepanjang Hayat

Baqi bin Makhlad, seorang murid Imam Ahmad Bin Hanbal, layak menjadi teladan bagi para pencari ilmu. Ketika berusia 20 tahun, ia melakukan perjalanan dari Andalusia menuju Baghdad dengan berjalan kaki demi mencari ilmu.

Ia rela menempuh perjalanan yang begitu panjang, melewati padang pasir, melintasi lautan, dan mendaki pegunungan. Upaya itu dilakukan Baqi bin Makhlad untuk belajar hadis pada ulama terkemuka bernama Imam Ahmad bin Hambal.

Di tengah perjalanan ke Kota Baghdad, ia mendengar kabar bahwa Imam Ahmad bin Hanbal sedang menghadapi ujian.Saat itu, Imam Ahmad bin Hanbal berkukuh pada pendapatnya bahwa Alquran bukanlah makhluk.

Akibatnya, penguasa melarang sang imam untuk mengajar atau membuka majelis ilmu. Ia dipenjara di rumahnya. Mengetahui hal itu, Baqi pun bersedih. Namun, langkahnya untuk berguru pada sang imam tak berhenti.

Ia tetap melanjutkan perjalanan ke B aghdad. Setibanya di ibu kota Dinasti Abbasiyah, Baqi meletakkan perbekalannya dan pergi menuju Masjid Agung. Ia lalu pergi mencari rumah Imam Ahmad bin Hanbal.

Ia kemudian mengetuk pintu dan mengucap salam dan Imam Ahmad pun menjawab salam serta membuka pintu. “Aku adalah orang yang asing di negeri ini dan ingin mencari ilmu, tidaklah aku melakukan perjalanan mencari ilmu ini kecuali kepadamu,” ujar Baqi.

Imam Ahmad lalu bertanya, “Dari manakah asalmu?” “Dari Barat jauh. Aku mangarungi lautan untuk menuju ke sini,” jawab Baqi. Sang imam lalu berkata, “Tempat tinggalmu jauh sekali, dan sebetulnya aku ingin membantumu, tetapi aku sedang dalam tahanan rumah dan tidak boleh mengajarkan sesuatu.”

“Wahai Abu Abdillah (sebutan Imam Ahmad)... aku adalah orang yang asing, tidak ada satupun dari orang Baghdad yang mengenaliku. Jika engkau mau aku akan datang kepadamu setiap hari sebagai seorang pengemis kemudian aku ketuk pintu rumahmu aku meminta sedekah, kemudi an engkau membacakan kepadaku walaupun satu hadis dalam sehari,” ucap Baqi.

“Baiklah...,” ujar Imam Ahmad bin Hanbal. “Engkau boleh seperti itu tetapi dengan syarat tidak menceritakannya kepada para pencari hadis yang lain karena nanti mereka akan iri kepadamu.”

Kisah di atas memberi pesan pada kita, sejauh apa pun jarak akan ditempuh oleh orang-orang yang haus akan ilmu dan kebenaran. Orang terdahulu lebih baik keluar dari tempat tinggal untuk hijrah dari kondisi kebodohan.

Mencari ilmu atau belajar adalah proses yang harus dilakukan terus-menerus meskipun kita tidak lagi berada di lingkungan sekolah atau universitas.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim).

Ilmu begitu penting dalam kehidupan umat manusia yang hendak mempertebal keimanan. Karena, ilmu dan keimanan laiknya dua sisi mata uang logam yang tidak terpisahkan.

Tanpa ilmu pengetahuan, keimanan kita bakal keropos. Sedangkan, tanpa keimanan, ilmu kita laksana kapal terbang tak berpilot, dapat mencelakakan para penumpang.

Itulah mengapa Allah SWT memerintahkan kita untuk selalu berlapang-lapang dalam majelis keilmuan (QS al-Mujaadilah [58]: 11). Di dalam Islam, belajar harus terus-menerus dilakukan tanpa mengenal usia, waktu, dan kesempatan.

Karena itu, ketika prinsip belajar sepanjang hidup tidak kita tanamkan dalam keyakinan, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menahan ilmu dari manusia dengan cara merenggutnya. Tetapi, dengan mewafatkan para ulama cendekia sehingga tidak lagi tersisa seorang alim.

Dengan demikian, orang-orang mengangkat pemimpin-pemimpin yang dungu lalu ditanya dan dia memberi fatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan,” (HR Mutafaqalaih). Wallahu alam.

Oleh: Dadang Kahmad

sumber : www.republika.co.id

Friday, October 23, 2015

Sekolah Anak Kita

Pilu rasanya hati melihat kenyataan yang menimpa anak-anak kita belakangan ini. Peristiwa kekerasan dan pelecehan seksual seakan menjadi rangkaian mata rantai yang belum juga bisa diakhiri.

Sebagian anak mengalami nasib malang karena dianiaya oleh orang tuanya sendiri. Begitu pula seorang anak SD menganiaya temannya hingga tewas. Hingga seorang gadis kecil ditemukan tewas di dalam kardus setelah mengalami kekerasan seksual.

Sejatinya, anak-anak adalah perhiasan hidup dunia yang menyenangkan hati orang tua. Mereka dilahirkan bersih, jujur dan tiada nista, fitrah dan selalu condong kepada kebaikan. (HR Bukhari). Anak kecil selalu tampil apa adanya sehingga kehadiran mereka selalu dinanti dan dirindukan dalam keluarga (QS 3: 14, 18: 46).

Anak belajar dari kehidupan sehingga mereka adalah produk masa yang dilaluinya. Karena itu, kita wajib menyediakan tempat-tempat belajar (sekolah) terbaik bagi mereka .

Ada empat sekolah yang membentuk kepribadian mereka. Pertama, keluarga. Sekolah pertama bagi anak adalah keluarga. Dalam sebuah keluarga dibangun tata sosial dan etika seorang anak. Ayah dan ibu menjadi guru utama untuk menanamkan akidah tauhid, syariat, dan akhlak (QS 2: 132-133, 31: 13-19).

Sikap, kata, dan perbuatan orang tua menjadi model dan rujukan utama bagi anak (kurikulum). Dr M Nasih Ulwan dalam buku Pendidikan Anak dalam Islam menyebutkan, keluarga menjadi wadah menanam akidah pohon tauhid dan syariat dengan keteladan, pembiasaan akhlak karimah, serta nasihat yang baik. Lalu, proses itu dikawal dengan pengawasan maksimal agar tumbuh menjadi pohon yang baik (syajaratun thayyibah).

Kedua, lembaga pendidikan (sekolah). Sekolah menjadi rumah kedua bagi anak, di mana tata sosial dibangun lebih terbuka. Sekolah harus menjadi komunitas baru yang aman dan nyaman agar anak bisa tumbuh normal bersama teman sebayanya.

Gur u layaknya orang tua kedua bagi anak. Kurikulum yang baik akan memban tu keluarga dalam pembiasaan sikap, kata, dan perilaku anak. Orang tua wajib memilih sekolah terbaik bukan termahal, yakni sekolah yang mengajarkan akidah lurus, syariat yang benar, dan akhlak yang baik.

Ketiga, lingkungan. Lingkungan sosial paling besar pegaruhnya, yakni kerabat, tetangga, teman sebaya, publik figur, tokoh masyarakat, pejabat negara, dan lainnya. Kejahatan, kekerasan, dan penyimpangan seksual sering kali dilakukan oleh orang dekat dan dikenal.

Orang tua harus memastikan anak pergi dengan siapa, di mana, main apa, dan berapa lama. Anak juga bisa belajar dari lingkungan alam sekitarnya. Jika alam masih terjaga, akan berdampak positif pada diri anak. Sebaliknya, jika alam rusak, hutan ditebang dan dibakar, polusi udara, asap kabut, dan hewan yang mati juga akan buruk bagi anak. Untuk itu, wajib bagi kita menjaga kelestarian alam semesta sebagai sekolah buat anak-anak masa depan.

Keempat, media. Sekolah keempat adalah media massa (cetak, elektronik, dan online), media sosial (Facebook, Twitter, dll), dan media komunikasi (HP, gadget). Dampak buruk siaran TV, internet, game online, gadget begitu nyata. Pornografi dan pornoaksi begitu mudah diakses.

Tayangan TV yang tidak mendidik dan HP yang merenggangkan hubungan keluarga. Warnet menjadi "sekolah" buruk yang bertebaran 24 jam. Anak pun bisa menjadi pribadi yang lemah, malas, dan pesimistis. (QS 4: 9).

Tidak ada kata lain kecuali kita harus hijrah berjamaah dari kemaskisatan, kezaliman, ketidakpedulian, kepura-kepuraan (ad-dzulumat) menuju ketaatan, keadilan, kepedulian, kejujuran (an-nuur). Kembali kepada keluarga dengan kasih sayang.

Oleh: Hasan Basri Tanjung

sumber : www.republika.co.id