-

Friday, September 16, 2011

Kang Darso dalam Kenangan (1945-2011)

Beberapa pesan pendek dan status fesbuk serta media online mengabarkan seniman calung, Hendarso atau lebih dikenal Kang Darso (66), Senin (12/9/ 2011) sore, berpulang ke rahmatullah. Dia meninggal dunia saat dilarikan ke Rumah Sakit Daerah Soreang. Kang Darso meninggal diduga karena serangan jantung. Kabar duka ini menyentak seluruh warga Jawa Barat, terutama urang Bandung.

Walaupun tidak kenal secara pribadi, saya sangat mengenal dan menikmati karya kang Darso. Orang asli Bandung tidak asing dengan sosoknya, unik dan bersahaja. Kalau sedang manggung; kacamata hitam akrab melekat di wajahnya dan juga sarung atau kostum yang dikenakannya mirip dengan kostum Michael Jackson (jas putih, celana putih, dan topi fedora).

Pada 1980-an, saya masih bersekolah di SD. Manakala perayaan 17 Agustusan tiba di tahun 1980-an, kelompok calung Darso menjadi primadona warga Bandung dan sekitarnya. Warga Jalan Gatot Subroto, Malabar, Samoja, Kosambi, dan Cikudapateuh, dan sekitarnya, mungkin akan terkenang dengan penampilan Kang Darso yang manggung di depan kantor Kelurahan Samoja (dahulu Kelurahan Cibangkong). Pada zaman itu, calung Darso paling ngetop. Humornya selalu membuat penonton terkesan sebab humornya enteng dicerna masyarakat pada umumnya.

Sahibul hajat rasa-rasanya kurang lengkap kalau tidak nanggap Kang Darso. Boleh jadi di tahun 1980-an, para sahibul hajat yang memiliki cukup biaya, selalu menghadirkan hiburan utama, calung Darso. Pemilik hajat ingin berbagai kebahagiaan, baik keluarga yang dipestakan maupun warga sekitar, dengan menanggap Kang Darso.

Sang legenda

Jauh sebelum dikenal sebagai pecalung legedaris, Kang Darso sudah menggeluti seni suara. Ia tergabung dalam grup Nada Karya sekira tahun 1962. Melalui grup musik ini, Kang Darso kerap tampil di Gedung Wanita (dekat Cihapit) mengiringi penyanyi legedaris, seperti Tetty Kadi dan Lilis Suryani. Karena peristiwa pemberontakan PKI, hampir semua seniman musik dilarang oleh pemerintah Orde Lama untuk ber-"ngak-ngik-ngok" sehingga grup Darso untuk sementara tiarap dahulu.

Merasa jenuh tidak ada aktivitas berkesenian dan masih berlakunya larangan pemerintah Orde Lama, Kang Darso bergabung dengan sang kakak, Uko Hendarto, bermain calung. Darso Putra merupakan nama grup calung yang dikibarkan dengan sang kakak. Kelak, Uko Hendarto merupakan pencipta lagu yang melejitkan nama Darso.

Melalui calung (alat musik tradisional Sunda yang terbuat dari awi wulung/bambu hitam atau awi temen/bambu putih), Darso sendiri menggunakan calung jinjing. Awal meniti karier sebagai seniman calung, Darso lebih sering membawakan lagu-lagu Sunda karya Koko Koswara atau Mang Koko (seniman karawitan Sunda).

Merasa percaya diri dengan kemampuannya, Darso membentuk sendiri grup calungnya, Calung Darso (1978). Dari karier ini, semua undangan pesta selalu dipenuhi sehingga pentas calung kang Darso menjadi referensi bagi seniman calung di pelosok. Gaya khas permainan Kang Darso manakala bermain calung, yakni saat ngabodor dengan pemain kecrek yang berambul jambul dengan kostum model badut. Melihat kehadiran grup Darso itu, sejumlah produser mulai melirik sehingga pada 1980-an lagu ciptaan Kang Uko mulai direkam untuk dikasetkan, kemudian di-CD-kan. Hingga sekarang, pedagang CD/DVD bajakan manakah (di Bandung) yang tidak menjual suara emas Darso. Hampir semua pedangan menjualnya.

Pada 1990-an, wajah Darso dan grupnya kerap mewarnai acara musik di stasiun televisi lokal (TVRI Bandung). Lagu populer pada saat itu, misalnya, "Marimpi" (Engklak-engklakan) atau "Cucu Deui". Bahkan sampai sekarang, hampir semua stasiun televisi yang ada di Bandung kerap menghidangkan acara musik Sunda, Kang Darso salah satu menunya.

Kekhasan lain di luar gaya grup Darso yang nyeleneh, yakni kepiawan Kang Uko sebagai pencipta lagu. Tema lagu khas dari relegius, sedih, cinta hingga pengabadian nama-nama tempat di Jawa Barat, menjadi daya tarik lagu yang dibawakan Darso. "Sarboah", "Duriat", "Mawar Bodas", "Ulah Ceurik", "Dina Amparan Sajadah", "Tanjakan Burangrang", "Mega Sutra", "Pantai Carita", "Bentang Cilampuyang", "Maribaya", dan "Tanjung Baru" sebagian lagu yang cukup meyakinkan pencinta musik Darso.

Melihat fenomena lagu Darso itu, misalnya lagu "Dina Amparan Sajadah" membuat penyanyi rap Ebieth Bieth A tertarik membuat versi remix-nya, kemudian lagu itu dinyanyikan ulang oleh sejumlah penyanyi pop Sunda lainnya sehingga CD lagu ini laris manis.

Satu hal lagi yang paling dahsyat dari semua lagu yang dibawakan Kang Darso adalah lagu "Kabogoh Jauh". Lagu yang menggambarkan pentingnya alat komunikasi telefon genggam (HP) sebagai alat komunikasi paling ampuh untuk menebus rasa rindu kepada kabogoh (pacar) yang berada nun jauh di seberang pulau. Ulah ceurik, tong diceungceurikan, wayahna urang papegat, najan hate masih beurat, pileuleuyan, pileuleuyan, hampura Akang hampura.... Selamat jalan Kang Darso, semua pencinta musik Akang akan merasa jadi kabogoh jauh. (Penulis adalah penyuka musik dan lagu yang dibawakan Kang Darso, tinggal di Bandung timur)**
Oleh: EDI WARSIDI

Artikel yang Berkaitan

0 komentar:

-

Post a Comment